Jihad itu mulia,
jikalau dilakukan dengan cara yang mulia pula. Akan menjadi biadab ketika
dilakukan dengan cara cara bejat. Tidak pernah ajaran manapun mengajarkan,
jihad dilakukan dengan cara menyakiti atau sampai membunuh orang lain apalagi
ngebom ngebom tempat ibadah (Jika yang diserang tidak melakukan kesalahan
apapun)apalagi dalam Islam ini sendiri.
Seperti halnya kejadian
yang terjadi beberapa hari ini atau lebih tepatnya Minggu, 28 Maret 2021—sebuah
ledakan yang yang diduga bom meledak di depan
Gereja Katedral Kota Makasar. Dan benar setelah polisi melakukan penyelikan, 2
orang pelaku melakukan peledakan bom bunuh diri dengan menggunakan bom rakitan.
Sangat memprihatinkan. Ketika orang sedang asyik bercengkrama dengan Tuhannya,
dilakukan penyerangan yang itu sungguh sangat biadab. Beruntung waktu itu
(menurut cerita) ada seorang penjaga gereja yang menghalangi pelaku, sehingga
bom meledak sebelum pelaku masuk kedalam Gereja.
“Jika kamu mmengebom rumah ibadah umat agama lain, sesungguhnya yang
hangus adalah imanmu itu sendiri.” (Habib Ja’far Husein). Orang yang
beriman sejatinya orang yang mampu menebarkan cinta dan kasih antar sesama
tanpa membedakan apapun latar belakangnya. Apapun itu, entah ras, suku,
golongan terlebih agama. Bukankah Rasulullah sendiri diutus sebagai pembawa
Rahmat bagi seluruh alam ini? Lalu siapa yang kalian tiru, ketika ada orang
yang beribadah kok malah diserang. Islam tidak pernah mengajarkan demikian. Jadi
jangan pernah mengatasnamakan Jihad. Apalagi Jihad dijalan Allah swt—tidak begitu
konsepnya bambaanngg!!!
Kita harus mengakui
bahwasanya memang ada kelompok-kelompok seperti demikan. Yang mana apa yang
mereka lakukan seolah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama tersebut. Kelompok yang terus melakukan doktrinasi bahwa
surga yang nantinya akan jadi imbalannya. Bisa kita lihat dalam surat wasiat
yang ditinggalkan oleh pelaku. Seolah jalan ini jalan yang harus mereka tempuh
atau jalani. Dengan mereka melakukan peledakan bom bunuh diri itu seolah mereka
akan mati syahid dan akan masuk surga sesuai apa yang mereka doktrinkan. Tentu ini
pemikiran yang salah, mereka menginginkan jalan pintas, namun namun yang
ditemuinya justru jalan kandas.
Banyak cara kok untuk
mendapatkan Surga yang dijanjikan oleh Alloh, daripada kamu mati dengan cara
demikian, bukankah justru kamu lebih baik mempertahankan hidup guna merawat
kedua orangtua kalian, berbakti kepada mereka. Bukan malah kamu tinggalakan
lalu kamu melakukan hal-hal yang sia sia tersebut. Kita sering mendengar
ungkapan “Surga berada ditelapak kaki ibu”. Kenapa kamu ngga
mengimplementasikan itu. Dan itu sesungguhnya cara yang lebih mulia. Ngga perlulah
melakukan jihad abal abal tersebut.
Ayolah belajar
toleransi terhadap antar umat agama lain. Alloh saja yang Maha Besar tiada
tandingannnya saja masih toleran kok terhadap makhluk ciptaannya. Kita sebagai
makhluk-Nya kenapa justru seenak jidat kita sendiri? Kita masih bebas melakukan
ibadah sana sini. Bahkan lebih bebas daripada umat agama lain. Perlu diketahui
saat ini izin pembanguan Gereja lebih sulit lho dibandingkan pendirian masjid. Ini
merupakan indikasi bahwasanya kita saat ini (muslim) masih bebas melakukan
ibadah ibadah yang kita percayai. Artinya kita tidak perlulah melakukan
penyerangan ke umat beragama lain. “Kecuali
kita sudah dilarang sholat, dilarang ibadah—baru darah urusannya.” (Sudjiwo Tedjo).

